NEWS UPDATE :  

Atikel Penelitian

Atikel Penelitian

BEST PRACTICE 
PENINGKATAN KOMPETENSI
KETRAMPILAN SISWA INKLUSI
 DI SMPN 2 KEMRANJEN DENGAN STRATEGI TALULAR
Oleh : ANTON, M.Pd.,M.Hum
(Kepala SMP Negeri 3 Kalibagor Kabupaten Banyumas)
 

A.Latar Belakang Masalah
Pendidikan mempunyai peran penting untuk meningkatkan sumber daya manunsia. Menurut Undang-undang  No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual  keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta  keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan secara umum bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, termasuk program layanan pendidikan bagi anak-anak inklusi.
Inklusif  adalah sistem layanan pendidikan yang mengatur agar difabel dapat dilayani di sekolah terdekat, di kelas reguler bersama-sama teman seusianya. Tanpa harus dikhususkan kelasnya, siswa dapat belajar bersama dengan aksesibilitas yang mendukung untuk semua siswa tanpa terkecuali difabel. Inklusif dapat berarti bahwa tujuan pendidikan bagi peserta lembaga pendidikan baik itu dari sekolah dasar sampai tingkat universitas yang memiliki hambatan adalah keterlibatan yang sebenarnya dari setiap siswa dalam kehidupan sekolah yang menyeluruh. Pendidikan inklusif dapat berarti penerimaan siswa atau mahasiswa yang memiliki hambatan ke dalam kurikulum, lingkungan, interaksi sosial dan konsep diri (visi-misi) sekolah atau universitas
 (https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_inklusif)
Dalam Peraturan Menteri Nomor 70 Tahun 2009 bahwa pendidikan inklusif adalah pendidikan bagi siswa inklusif didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Melalui peraturan di atas maka Kementrian Pendidikan Nasional Republik Indonesia mengeluarkan program dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, pasal 6 yang menyatakan bahwa; 1) Pemerintah kabupaten/kota menjamin terselenggaranya pendidikan inklusif sesuai dengan kebutuhan siswa inklusif didik; 2) Pemerintah kabupaten/kota menjamin tersedianya sumber daya pendidikan inklusif pada satuan pendidikan inklusif; 3) Pemerintah dan pemerintah provinsi membantu tersedianya sumber daya pendidikan inklusif. Proses belajar mengajar bagi ABK dengan disabilitas terutama yang IQ (Intelligence Quotient) di bawah angka 70 maka diprioritaskan sebanyak 80 persen muatan ketrampilan dan sisanya adalah pendidikan akademik seperti matematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA). Sebanyak 80% keterampilan kecakapan hidup itu pun disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan potensi yang ada di daerah.
Kurikulum bagi ABK dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan  kemasyarakatan, dunia usaha dan  dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, dan keterampilan sosial, merupakan salah satu mencakup keseluruhan dimensi kompetensi yang meliputi kognitif, afektif, dan psikomotor, mata pelajaran.
Berbagai model pembelajaran bagi ABK jenjang pendidikan dasar (usia 7-15 tahun) dikembangkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan bakat dan minat peserta didik, menumbuhkembangkan bakat dan minat peserta didik, mempersiapkan peserta didik sebagai bagian dari anggota masyarakat yang mandiri serta mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
SMP Negeri 2 Kemranjen sebagai sekolah penyelenggara pendidikan inklusi mempunyai perbedaan dengan sekolah lain yang bukan penyelenggara pendidikan inklusi. Proses pembelajaran untuk siswa inklusi  di SMP Negeri 2 Kemranjen selama ini masih bersifat konvensional. Guru mata pelajaran/pembimbing khusus mengajar hanya rutinitas. Guru hanya mengembangkan pengetahuan kognitif siswa, bagi siswa regular mereka bisa berkembang dengan baik tetapi bagi siswa  inklusi  ketrampilannya belum terkesplorasi dengan maksimal.
Keterbatasan sarana dan prasaran untuk mengembangkan kompetensi ketrampilan siswa inklusi menjadi kendala di SMP Negeri 2 Kemranjen. Sehingga guru harus bisa mengembangkan kompetensi ketrampilan siswa inklusi dengan memanfaatkan sumber-sumber yang ada di lingkungan sekolah. Metode TALULAR adalah metode yang mungkin bisa menjadi alternatif untuk mengembangkan  kompetensi ketrampilan siswa khususnya siswa inklusi.


B.RUMUSAN MASALAH
Masalah yang akan dibahas dalam best practice ini dirumuskan dalam kalimat pertanyaan sebagai berikut.
1.Bagaimana pelaksanaan pembelajaran bagi siswa inklusi di SMP Negeri 2 Kemranjen dengan metode TALULAR?
2.Bagaimana meningkatakan kompetensi ketrampilan siswa inklusi di SMP Negeri 2 Kemranjen dengan metode TALULAR?
C.TUJUAN
Tujuan penulisan best practice ini adalah untuk :
1.Mendeskripsikan pembelajaran siswa inklusi dengan metode TALULAR
2.Mendeskripsikan hasil peningkatan ketrampilan siswa melalui kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh siswa inklusi.
D.MANFAAT
Penulisan best practice ini diharapkan memberikan manfaat untuk :
1.Bagi SMP Negeri 2 Kemranjen, agar para guru dapat menggunakan sumber-sumber pembelajaran yang ada di sekitar sekolah sehingga kompetensi ketrampilan siswa inklusi dapat dikembangkan.
2.Bagi rekan-rekan Kepala Sekolah inklusi lain dapat bermanfaat sebagai rujukan untuk mengembangkan kompetensi ketrampilan siswa inklusi

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.Pengertian Ketrampilan
Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler (Depdiknas: 2016). Pada kompetensi ketrampilan gambaran idealnya peserta didik dapat mencoba ,mengolah dan menyajikan dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai,merangkai, memodifikasi dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca,  menghitung menggambar dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber yang lain yang sama dalam sudut pandang teori.
Keterampilan biasanya sering kali diartikan sebagai kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mengerjakan dan menyelesaikan sebuah pekerjaan. Beberapa ahli mengutarakan pendapatnya mengenai pengertian keterampilan ini. Keterampilan secara umum merupakan kemampuan dan kapasitas yang diperoleh melalui usaha yang disengaja, sistematis, dan berkelanjutan untuk secara lancar dan adaptif melaksanakan aktivitas-aktivitas yang kompleks atau fungsi pekerjaan yang melibatkan ide-ide (keterampilan kognitif), hal-hal (keterampilan teknikal) dan hubungan dengan orang lain (keterampilan interpersonal).
Sedangkan ada tiga ahli yang mengutarakan pendapatnya mengenai pengertian keterampilan ini. Pengertian keterampilan menurut para ahli, adalah:
1.Menurut Sudjana (1987), keterampilan adalah pola kegiatan yang bertujuan, yang memerlukan manipulasi dan koordinasi informasi yang dipelajari. Keterampilan ini dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu keterampilan fisik dan keterampilan intelektual.
2.Menurut Rusyadi yang dikutip oleh Yanto (2005), keterampilan adalah kemampuan seseorang terhadap suatu hal yang meliputi semua tugas-tugas kecakapan, sikap, nilai dan kemengertian yang semuanya dipertimbangkan sebagai sesuatu yang penting untuk menunjang keberhasilannya didalam penyelesaian tugas.
3.Menurut Syah (2006), keterampilan adalah kegiatan yang berhubungan dengan urat syaraf dan otot-otot yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah. Sekarang ini, keterampilan menjadi hal yang sangat penting terutama bagi seseorang yang ingin mencari pekerjaan. Beragam keterampilan dan pengalaman kerja juga turut menjadi penilaian tersendiri. Beberapa keterampilan yang biasanya diinginkan oleh perusahaan dan harus dimiliki oleh para pencari kerja adalah sebagai berikut:
a.Kesadaran komersial, yaitu memiliki naluri bisnis yang tajam.
b.Komunikasi, baik verbal maupun tertulis.
c.Kerja tim, Anda diharuskan untuk mengelola dan bisa bertanggung jawab dalam sebuah tim.
d.Negosiasi dan persuasi.
e.Memecahkan masalah.
f.Kepemimpinan.
g.Organisasi.
h.Ketekunan serta motivasi
i.Kemampuan untuk bekerja di bawah tekanan dan tetap tenang dalam menghadapi krisis.
j.Kepercayaan diri.
B.Keterampilan Belajar
Keterampilan belajar merupakan keahlian yang didapatkan (acquired skills) oleh seorang individu melalui proses latihan yang berkesinambungan dan mencakup aspek optimalisasi cara-cara belajar baik dalam domain kognitif, afektif ataupun psikomotorik. Namun demikian komponen utama latihan keterampilan belajar dalam konsepsi learning how to learn difokuskan pada individu itu sendiri sebagai learner, sehingga setiap individu dilatih untuk mengembangkanaya dan karakteristik belajarnya sendiri dan bukan ‘dipaksa’ untuk mengikuti gaya belajar yang one size fits for all (satu cara yang sama untuk semua orang). (Djamal : 2006)
Secara umum keterampilan belajar menitikberatkan pada strategi pembelajaran untuk membantu peserta didik menjadi lebih baik dan lebih mandiri dalam belajar. Peserta didik akan belajar bagaimana mengembangkan dan menerapkan belajar, keterampilan manajemen pribadi, dan interpersonal dan keterampilan kerja sama tim untuk meningkatkan pembelajaran dan prestasi di sekolah. Program pembelajaran ini membantu siswa untuk membangun kepercayaan diri dan motivasi untuk mengejar peluang untuk sukses di sekolah menengah dan jenjang pendidikan selanjutnya
Merujuk pada pengertian keterampilan belajar itu, maka dapat disimpulkan bahwa hakikat keterampilan belajar meliputi empat unsur utama yaitu:
1. Transformasi persepsi belajar.
dalam berbagai hal guna meningkatkan keahlian belajar dalam basic skills (membaca, menulis dan mendengar) ataupun dalam menangani rasa takut dan kecemasan. Transformasi ini tidak hanya melatih kemampuan kognitif saja akan tetapi juga meliputi domain afektif dan psikomotorik dari setiap orang. Sehingga mampu menunjukkan pemahaman tentang keterampilan dan strategi belajar yang diperlukan untuk sukses di sekolah.
2. Keterampilan manajemen pribadi.
Kemampuan menerapkan pengetahuan keterampilan belajar dan kekuatan (potensi) belajar yang dimilikinya untuk mengembangkan strategi guna memaksimalkan dan meningkatkan pembelajaran sehingga dapat meraih kesuksesan belajar di sekolah menengah.
3. Interpersonal dan keterampilan kerjasama tim.
Kemampuan mengidentifikasi dan menjelaskan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk sukses dalam hubungan interpersonal dan kerjasama tim. Selain itu, juga menunjukkan kemampuan yang tepat untuk menerapkan keterampilan interpersonal dan kerjasama tim dalam berbagai lingkungan belajar.
4. Kesempatan Eksplorasi.
Mengembangkan portofolio dokumen yang terkait dengan penilaian diri,penelitian, dan ekplorasi karir yang diperlukan untuk merencanakan jalur untuk keberhasilan sekolah menengah.
Keempat unsur itu merupakan ciri keterampilan belajar yang utuh yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam proses pembelajaran keterampilan belajar keempat unsur itu diharapkan dapat muncul, sehingga peserta didik dapat mengalami proses internalisasi keterampilan belajar di dalam sikap belajarnya secara utuh dan sempurna sehingga dapat mengurangi kemungkinan kebuntuan dalam belajar (learning shutdown).
Tujuan pembelajaran keterampilan belajar adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran
2. Menumbuhkan minat dan motivasi belajar
3. Membentuk peserta didik yang mandiri dalam belajar
C. STRATEGI TALULAR
TALULAR adalah singkatan dari Teaching And Learning Using Locally Available Resources, yang artinya adalah belajar dan mengajar dengan menggunakan  sumber-sumber lokal yang tersedia. Menurut Gibson Zembani,et.all (2008) TALULAR adalah filsafat sederhana yang mencakup kedua proses belajar mengajar di dalam kelas. Berdasarkan uraian di atas, TALULAR adalah proses belajar mengajar yang menggunakan berbagai macam sumber dan bahan belajar  lokal yang terdapat dilingkungan sekitar tempat siswa belajar.
Gibson Zembani, et.all (2008) menerangkan keuntungan TALULAR adalah :
1.TALULAR melengkapi isi atau materi yag terdapat pada buku melalui perluasan dengan sumber-sumber lain seperti manusia, binatang, tanaman, dan sumber-sumber lain berupa benda atau bukan benda yang di perlukan melalui pendekatan menyeluruh
2.TALULAR menbantu menjelaskan dan menyederhanakan konsep-konsep yang sulit
3.TALULAR memotivasi belajar anak
4.TALULAR mengembangkan kreativitas siswa
5.TALULAR menyidiakan pengalamn langsung sesuai dengan kenyataan yang ada pada lingkungan fisik dan lingkungan sosial
6.TALULAR memperkenalkan berbagai variasi dan belajar dan mengajar
7.TALULAR membantu mengatasi keterbatasan-keterbatasan kelas dengan membuat yang tidak dapat diakses menjadi mudah diakses
8.TALULAR mendorong partisipasi aktif dalam pelajaran, khususnya pada saat mereka mengobservasi, menguji dan memanipulasi sumber-sumber TALULAR yang tersedia
9.TALULAR mengefisiansikan biaya pengadaan sumber-sumber belajar
10.TALULAR meningkatkan fokus dalam diskusi pada saat pelajaran
11.TALULAR membantu memberi kepuasan terhadap keingintahuan anak.
Contoh Penerapan Pendekatan TALULAR pada Pembelajaran Siswa Inklusi
Langkah-langkah penerapan proses pembelajaran melalaui pendekatan TALULAR adalah :
1.Menganalisis sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar
2.Memilih dan menyesuaikan sumber dan bahan belajar yang akan di gunakan
3.Membuat rancangan pelaksanaan pembelajarn sesuai dengan materi, sumber dan bahan belajar yang telah ditentukan
4.Menggunakan rancangan pelaksanaan pembelajaran dengan tepat
5.Menganalisis tindakan yang terjadi saat proses pembelajaran.
Langkah-langkah penerapan pendekatan TALULAR yang dilakukan oleh guru pembimbing inklusi adalah :
1)Guru mengamati benda-benda apa saja yang berada didalam kelas dan lingkungan sekitar utuk dapat digunakan sebagai sumber belajar.
2)Guru memilih dan menyesesuaikan sumber belajar yang berkaitan dengan materi pokok yang akan diajarkan.
3)Guru membuat rancangan pembelajaran yang sesuai dengan materi, bahan dan sumber belajar
4)Guru melaksanakan rancangan kegiatan pembelajaran dengan tepat sesuai dengan materi, bahan dan sumber belajar yang telah ditentukan. Dalam kegiatan ini, guru memberikan keterangan terhadap benda-benda yang dijadikan sebagai sumber belajar dan memberikan keterangan disetiap tindakan yang dilakukan dalam proses pembelajaran
5)Guru meminta siswa mempraktekkan kegiatan pembelajaran dengan sumber belajar yang telah ditentukan sebelumnya dan menyuruh siswa mendiskusikan semua kemungkinan yang dapat terjadi dalam kegiatan tersebut.
6)Guru menjelaskan materi yang akan diajarkan
7)Guru memberikan latihan  kepada siswa
8)Guru memberikan evaluasi kepada siswa.
Langkah-langkah penerapan pendekatan TALULAR misalnya pada mata pelajaran bahasa Inggris adalah :
1)Guru mengamati benda-benda apa saja yang berada didalam kelas dan lingkungan sekitar utuk dapat digunakan sebagai sumber belajar.
2)Guru memilih dan menyesesuaikan sumber belajar yang berkaitan dengan materi pokok yang akan diajarkan
3)Guru membuat rancangan pembelajarn yang sesuai dengan materi, bahan dan sumber belajar
4)Guru melaksanakan rancangan kegiatan pembelajaran dengan tepat sesuai dengan materi, bahan dan sumber belajar yang telah ditentukan. Dalam kegiatan ini, guru memberikan keterangan terhadap benda-benda yang dijadikan sebagai sumber belajar dan memberikan keterangan disetiap tindakan yang dilakukan dalam proses pembelajaran
5)Siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4-5 orang;
6)Guru menayangkan video sesuai dengan topik yang akan diajarkan.
7)Guru menjelaskan materi video pembelajaran;
8)Siswa pada tiap kelompok di minta untuk mengambil 1 buah kertas undian yang berisi nama bahan pembelajaran.
9)Siswa diminta mengambil bahan tersebut diatas meja guru.
10)Guru meminta masing-masing kelompok mendiskusikan untuk menyelesaikan soal yang berkaitan dengan topic/Kmpetensi Dasar
11)Guru meminta peserta didik mempresentasikan hasil diskusi.
12)Guru memberikan soal evaluasi kepada siswa.
BAB III
METODE
Data dalam penelitian ini berupa dokumen (hasil pekerjaan siswa yang diberikan pada saat kegiatan pembelajaran, hasil wawancara, hasil lembar observasi, dan catatan lapangan. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa inklusi di SMP Negeri 2 Kemranjen Tahun Pelajaran 2017/208 berjumlah 13 orang.   Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data disesuaikan dengan pendapat Sugiyono (2011). Menurut Sugiyono (2011), teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif secara umum terdiri dari empat macam, yaitu observasi, wawancara, dokumentasi, dan gabungan/triangulasi. Triangulasi adalah pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu (Sugiyono, 2011). Dalam penelitian ini, pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara: (1) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara; (2) membandingkan data hasil wawancara dengan data hasil pekerjaan siswa. Oleh karena itu triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi teknik.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Analisis data kualitatif dilakukan melalui supervise pada saat  guru melakukan proses belajar mengajar menggunakan metode TALULAR, seperti hasil lembar observasi aktivitas guru dan siswa, hasil lembar wawancara, dan hasil catatan lapangan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tatular adalah singkatan dari Teaching And Learning Using Locally Available Resources, yang artinya adalah belajar dan mengajar dengan menggunakan  sumber-sumber lokal yang tersedia adalah proses belajar mengajar yang menggunakan berbagai macam sumber dan bahan belajar  lokal yang terdapat dilingkungan sekitar tempat siswa 
Strategi Tatular pada guru SMP Negeri 2 Kemranjen dapat memberikan peningkatan kompetensi kognitif pedagogik yang besar. Hal ini dapat dilihat pada realitas proses belajar mengajar di sekolah. Sebelum menggunakan metode TALULAR pada umumnya mereka mengalami kendala dalam menyiapkan alat peraga dan alat bantu mengajar yang lain. Setelah TALULAR dilaksanakan kendala mereka bisa diatasi dengan  memanfaatkan  sumber daya alam yang tersedia disekitar sekolah. 
Kegiatan belajar mengajar berlangsung secara efektif. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, memilih metode dan teknik pembelajaran, penggunaan alat bantu media, pengelolaan setting lingkungan pembelajaran serta melibatkan peserta didik sebagai subyek aktif. Berdasarkan pengamatan, peserta didik menunjukkan antusiasme dan tingkat partisipasi yang tinggi pada saat pembelajaran berlangsung. Dalam pembelajaran yang melibatkan peserta secara aktif, mendorong peserta untuk kreatif dan penciptaan suasana yang menyenangkan sehingga menghasilkan keterampilan yang bermanfaat.   
Kompetensi pedagogik seorang guru  dapat tercermin pada pemberian pelayanan terbaik saaat melaksanakan proses pembelajaran. Kompetensi pedagogik guru berhubungan dengan kemampuan guru mengelola kegiatan pembelajaran. Kompetensi ini melibatkan unsur pengetahuan guru, sikap dan keterampilannya dalam mengembangkan proses mengajar yang dilaksanakannya dan proses belajar yang dilakukan peserta didik. Kemampuan ini meliputi tujuh bidang seperti yang dijabarkan pada Peraturan Pemerintah No 74 Tahun 2008 tentang Guru, yaitu:
1.  memahami karakteristik para peserta didik, 
2. menguasai konsep-konsep belajar dan prinsipprinsip pembelajaran yang mendidik, 
3. memahami dan mengembangkan kurikulum, 
4. melaksanakan kegiatan pembelajaran yang mendidik, 
5. mengembangkan potensi peserta didik, 
6.  menciptakan komunikasi edukaif dengan peserta didik, dan 
7. melaksanakan penilaian dan evaluasi. 
Pemahaman guru terhadap karakteristik fisik, intelektual, sosial, emosional, moral, dan latar belakang sosial budaya di SMP Negeri 2 Kemranje, membantu mengoptimalkan kegiatan pembelajaran.  Keluaran dari pemahaman ini adalah peserta didik: mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi aktif walaupun ada sejumlah perbedaan, tidak dirugikan karena guru bisa mengantisipasi munculnya perilaku negatif, terdorong untuk mengembangkan potensi secara optimal dan dapat mengatasi kekurangannya, mendapatkan perlakukan yang adil dan nyaman dalam mengikuti pembelajaran walaupun memiliki kendala sebagai Anak yang Berkebutuhan Khusus (ABK).  
Dalam kaitannya dengan kurikulum, guru dituntut untuk mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan rancangan silabus dan RPP yang dibuatnya. Rancangan yang disusunnya haruslah mempertimbangkan berbagai komponen belajar siswa sesuai dengan kurikulum yang sudah ditetapkan.  Terkait SMP Negeri 2 Kmeranjen sebagai sekolah inklusif, tenunya berbagai kebijakan dapat diterapkan. Misalnya dalam penilaian akademik, siswa ABK mendapat perlakuan khusus dengan pendampingan khusus, kriteria tugas dan soal yang lebih mudah dibandingkan dengan siswa reguler.
 Dalam pelaksanaan rancangan pembelajaran, guru harus mampu melaksanakan rancangan pembelajaran secara lengkap, sesuai dengan kebutuhan peserta didik, materi pembelajaran dan sumber belajar yang tepat, mengkaitkannya dengan konteks kehidupan seharihari, melakukan variasi metode pembelajaran, mengelola kelas dengan efektif, memberikan kesempatan untuk bertanya, mempraktekkan dan berinteraksi dengan sesama peserta didik, mengatur pelaksanaan aktivitas pembelajaran secara sistematis, dan menggunakan alat bantu media mengajar yang sesuai. Strategi tatular dapat dijadikan salah satu kebutuhan belajar siswa yang beragam dapat diakomodasi melalui penggunaan berbagai metode dan media pembelajaran yang bersumber lokal.  
Guru harus mampu  mengidentifikasi minat, bakat, potensi dan kesulitan belajar peserta didik inklusif serta upaya aktualisasi dan pengembangan. Berkaitan dengan hal ini guru perlu merancang dan melaksanakan pembelajaran untuk memunculkan daya kreativitas dan daya kritis, sesuai dengan kecakapan dan pola belajar, Guru secara aktif membantu peserta didik dalam proses pembelajaran dengan memberikan perhatian kepada setiap individu. Kemampuan mengembangkan komunikasi yang efektif dengan peserta didik inklusif sangat diperlukan. Kemampuan berkomunikasi efektif meliputi sejumlah keterampilan, seperti:  memberikan respon, menggunakan pertanyaan, memberi perhatian, mendengarkan, mengklarifikasi pertanyaan/tanggapan, menanggapi pertanyaan, dan menumbuhkan kerja sama antar peserta didik. 
Kompetensi guru berikutnya adalah kemampuan melakukan penilaian baik proses maupun hasil pembelajaran yang dilaksanakannya. Hal ini penting sebagai balikan (feedback) bagi perbaikan rancangan pembelajarannya. Untuk itu guru perlu memiliki keterampilan menyusun instrument penilaian yang tepat sejalan dengan tujuan pembelajaran, melaksanakan penilaian, dan menggunakan hasil penilaian tersebut untuk mengoptimalkan belajar peserta didik dan penyempurnaan proses pembelajaran.  
Strategi TALULAR yang digunakan dalam kegiatan akademik dan nonakademik. Dalam kegiatan akademik guru memanfaatkan sumber daya yang ada, baik sumber daya buatan maupun sumber daya alam. Sumber daya buatan, merupakan perangkat media pembelajaran yang sengaja dibuat/dibeli untuk kepentingan pembelajaran sebagai aspek keterampilan bagi siswa terutama siswa ABK. Media pembelajaran digunakan dalam mata pelajaran, Matematika, IPA, IPS, Seni Budaya, Penjasorkes.
Sumber daya alam yang digunakan dalam strategi TALULAR merupakan sumber daya alam yang ada disekitar sekolah. Secara geografis SMP Negeri 2 Kemranjen, terletak di desa, kontur tanah yang berbukit. Sehingga pembejaran dapat memanfaatkan sumber daya alam. Mata pelajaran yang menggunakan sumber daya alam, misalnya Bahasa Indonesia, PKN, IPA, Seni Budaya, IPS, Matematika, Bahasa Jawa, Penjasorkes. Melalui sumber daya alam ini siswa lebih mudah untuk menerima pelajaran terutara siswa ABK akan lebih mudah menerima pelajaran dan dapat meningkatkan keterampilannya.
Di SMP Negeri 2 Kemranjen dideteksi ada 13 peserta didik yang tersebar dalam semua kelas  yang termasuk anak berkebutuhan khusus (anak inklusif). Ketiga belas anak tersebut kategori lambat belajar. Untuk menyelesaikan permasalahan lambat belajar guru harus ekstra bekerja keras dan super sabar dalam menghadapi peserta didik tersebut. Di dalam satu kelas rata-rata ada anak berkebutuhan khusus sehingga diperlukan perlakuan yang beda. Salah satu perlakuan yang beda ini ditempuh dengan pemberian KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang berbeda dan lebih rendah dibandingkan peserta didik lain. Pemberian soal-soal latihan dan ulangan juga diturunkan standarnya/ lebih mudah dengan peserta didik lain. Dengan demikian anak berkebutuhan khusus dapat belajar dengan maksimal dan  tuntas belajar sehingga dapat naik kelas dengan wajar. 
Dalam pelaksanaannya ternyata banyak kendala dihadapi dalam kegiatan akademik. Walaupun KKM sudah diturunkan, tetapi tetap saja nilai tidak mencapai KKM. Di samping itu, motivasi belajar sangat rendah. Sehingga perlu pendampingan khusus kepada anak berkebutuhan khusus. Alternatif solusi yang dapat dijalankan adalah dengan pendampingan intensif. Kegiatan ini sejenis dengan kegiatan jam tambahan. Sehingga pembelajaran lebih efektif. 
Sebagai pengembangan sekolah penyelenggara inklusif SMP Negeri 2 Kemranjen Tahun 2017 menerima bantuan dari Dinas Pendidikan Kabupaten sejumlah Rp. 8.000.000. Dana bantuan yang diterima dipergunakan untuk pengadaan peralatan nonakademik. Sesuai kebijakan sekolah bantuan tersebut akan dialokasikan pada mata pelajaran Seni Budaya. Pemilihan mata pelajaran Seni Budaya karena berlatar belakang pada kearifan lokal. Sebagaian masyarakat adalah penikmat seni. Di sekitar sekolah terdapat grup-grup kesenian misalnya, kuda lumping, karawitan, dan kentongan.
Dengan dana bantuan dari pemerintah, sekolah membelajakan untuk kebutuhan siswa. Adapun barang yang dibeli adalah alat sablon, seperangkat alat musik kentongan, dan seperangkat alat membatik. 
Ternyata kegiatan nonakademik lebih disukai oleh anak inklusif. Mereka sangat antusias ketika membatik dan bermain musik kentongan. Bakat dan minat anak berkebutuhan khusus muncul. Misalnya Sarinah, dia adalah anak yang lambat belajar, tertutup, nyaris tidak punya teman. Tetapi ketika bergabung dengan grup musik kentongan dan menjadi penari dia sangat antusias. Perkembangan secara psikologis juga sangat pesat. Sarinah menjadi punya teman, terbuka, dan mulai mudah bergaul. 
Kegiatan nonakademik bagi siswa ABK yang dilaksanakan sebagai pengembangan keterampilan bagi siswa ABK  di SMP Negeri 2 Kemranjen terbagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1.Kentongan
Kentongan berasal dari kata kentong yang artinya alat komunikasi tradisional yang terbuat dari bambu atau kayu dan digunakan untuk memberi informasi kepada masyarakat dengan isyarat. Seiring dengan perkebangan zaman pengrajin kentongan semakin kreatif. Mereka bereksperimen memadukan beberapa alat musik bambu buatan mereka dengan kentong yang dimodifikasi sedemikian rupa. Sehingga menjadi kesenian tradisional yang disebut kentongan.
Seperangkat alat musik kentongan standar terdiri dari 10 kentong dengan varian 3 suara. Gambang, merupakan bambu yang berbentuk bambu-bambu yang ditata. Angklung, merupakan modifikasi dari angklung yang sudah ada. Triplok , alat ini mirip dengan drum, kemudina kendang yang dimodifikasi dari karet ban. Semua itu jika dipadukan akan membentuk suara-suara yang rancak dan mampu memikiat bagi siapa saja yang melihatnya. Di Banyumas dan sekitarnya kesenian kentongan sudah membudaya. Setiap ada acara selalu dipentaskan kentongan. Kegiatan disekolah juga diberikan sebagai ekstrakulikuler. Bahkan sejak bertahun-tahun yang lalu pemerintah Kabupaten Banyumas selalu menyelenggarakan festival kentongan di bulan Agustus tahun 2018.
Kegiatan kentongan di SMP Negeri 2 Kemranjen dimasukan dalam kegiatan ekstrakulikuler. Pada tahun pertama di semester pertama kegiatan ini dilaksanakan 2x seminggu yaitu pada hari selasa dan jumat pukul 14.00 s.d 16.00 WIB.  Siswa berkebutuhan khusus pun mengikuti perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Berdasarkan saran dari pembina ekstra mereka berinisiatif mencari informasi dari internet. Melalui youtube mereka melihat berbagai video kreativitas kentongan. Untuk nada-nada lagu terbaru mereka juga browsing di internet. Kemudian mengunduh not dan syair lagu sebagai bahan referensi. Tanpa terasa pembelajaran abad XXI sudah diterapkan melalui kegiatan ini.
Hasil yang diperoleh sangat menakjubkan. Anak-anak berkebutuhan khusus sangat antusias dalam latihan. Hasilnya tim kentongan sering tampil dalam kegiatan di sekolah misalnya pentas seni akhir tahun dan kegiatan di luar sekolah. Kegiatan di luar sekolah misalnya diundang oleh desa Karangsalam dan Tanggeran pada acara pentas peringatan HUT Proklamasi tahun 2017, pengisi acara pada visitasi Puskesmas Kemranjen 1, dan tampil pada acara Gebyar Inklusif 2018 tingkat Kabupaten Banyumas. 
Pada acara Gebyar Inklusif Tingkat Kabupaen Banyumas tahun 2018 yang diselenggarakan pada bulan Maret tahun 2018, siswa SMP 2 Kemranjen mengikuti dengan penuh antusias. Adapun kegiatan yang diikuti adalah lomba lukis yang diwakili oleh Purba Rizki ( kelas VII A), Fashion Show oleh Sarinah (kelas IXC), dan pentas kentongan yang iikuti oleh tim kentongan SMP Negeri 2 Kemranjen dengan lagu Anoman Obong dan Indonesia Pusaka.
2.Membatik
Seiring dengan kegiatan kentongan, kegiatan membatik juga mendapat apresiasi yang luar biasa dari anak bekebutuhan khusus. Kegiatan membatik diawali dengan membuat gambar pada kertas. Dari gambar batik dikerjas kemudian di blak ke atas kain yang akan dibatik. Kain yang telah digambar dibatik dengan malam. Setelah selesai kain batik itu direbus untuk menghilangkan malamnya. Proses selanjutnya adalah di jemur  setelah kering kain batik siap dipasarkan. 
3.Membuat kerajinan tangan
Produk kerajinan tangan yang telah dipraktikan adalah dengan membuat miniatur tanaman durian. Bahan yang digunakan dari barang bekas yaitu kardus, lem, gunting. Produk yang dibuat mengapa miniatur pohon durian ? karena wilayah Desa Karangsalam yang merupakan lokasi sekolah merupakan sentra durian terbaik di wilayah Kemranjen dan Banyumas pada umumnya.
Miniatur pohon durian ini berupa, pohon durian dengan tinggi sekitar 60 CM, dengan beberapa daun berwarna hijau. Adapun buah durian digantungkan dibeberapa batang. Keindahan dari miniatur ini terletak pada buah durian. Pohon ini diterapkan pada sebuah pot besar yang disesuaikan dengan besar ohon tersebut.
Selain miniatur pohon durian juga ada kegiatan mozaik pada media kendi tanah. Mozaik in berasal dari limbah kulit telur. Mozaik-mozaik ini membentuk motif-motif tertentu. Adapun motifnya antara lain bati, garis, bangunan dll. Proses awalnya kendi di buat sketsa gambar dengan pensil. Setelah jadi, tempelkan limbah kulit telu dengan menggunakan lem. Limbah kulit telur yang digunakan dari berbagai unggas. Kegiatan ini membutuhkan ketenanangan dan ketelatenan. Hasilnya sungguh luar biasa, kendi tanah yang tadinya biasan menjadi bentuk kerajinan yang eksotik dan bercita rasa seni. Selain media kendi mozaik limbah kulit telur juga bisa ditetakan pada potongan bammbu.
Dalam program jangka panjang, pembuatan miniatur durian ini dapat dijadikan sebagai barang kerajinan, souvenir yang merupakan ciri khas dari wilayah kemranjen. Keberadaannya akan terus dikembangkan.
Ketiga kegiatan tersebut dibimbing oleh guru-guru pendamping Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan pihak lain yang berasal dari praktisi seni kentongan. Ketekunan guru-guru pendamping dalam mengelola kegiatan dapat dijadikan keteladanan bagi peserta didik lain yang “normal”. Sehingga mereka dapat berinteraksi dengan ABK tanpa ada pembeda diantara mereka.
Berdasarkan pengamatan, pada saat kegiatan kentongan, membatik, dan membuat kerajinan tangan anak berkebutuhan khusus sangat menikmati pembelajaran. Meraka melakukan tugas dengan penuh keceriaan. Bahkan seharian yang diminta hanya membatik saja, kentongan saja ataupun membuat kerajinan tangan saja. Menurut mereka membatik adalah hal yang baru menyenangkan. Berbagai motif batik dapat dibrowsing melalui internet. Kemudian untuk tutorial membatik dapat dilihat di youtube, lagi-lagi keterampilan abad XXI mulai berkembang. Dengan demikian anak-anak berkebutuhan khusus dilatih untuk memecahkan masalah untuk mencari not-not lagu yang terdapat pada internet




BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Menjadi sekolah penyelenggara inklusif merupakan suatu keniscayaan. Penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus membutuhkan persiapan dan pengembangan materi maupun imateri. Proses Belajar mengajar dengan metode TALULAR sangat efektif untuk meningkatkan ketrampilan siswa inklusif baik kegiatan akademik maupun non akademik. Kegiatann penyelengaaanya harus didukung oleh seluruh warga sekolah, pemerintah dan masyarakat. Tantangan sekolah inklusif adalah mengantarkan siswa lulus dan membekali keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk bekal masa depan. Sehingga kompetensi keterampilan menjadi salah satu aspek yang diprioritaskan
Nilai bukanlah tolak ukur yang paling utama. Belum ada jaminan peserta didik yang pandai matematika, yang nilai ujian bahasa inggrisnya 100 akan sukses di masa depan. Sebaliknya anak berkebutuhan khusus akan mempunyai masa depan yang suram, belum tentu. Masa depan yang sukses dapat diraih bagi mereka yang cerdas dalam usaha dan peluang dalam hidupnya. 
Target pendidikan inklusif dapat tercapai, target interpersonal anak berkebutuhan khusus dapat berinteraksi dengan lingkungan yang normal. Target fokus dapat dilaksanakan dengan baik dan produk juga dapat diwujudkan melalui karya dalam seni budaya maupun menghasilkan kerajinan yang bernilai ekonomi.
Sejatinya tugas dari seorang guru adalah memberikan pelayanan yang terbaik bagi setiap peserta didik kemudian mengantarkan peserta didik lulus dalam satu jenjang pendidikan. Menjadi orang sukses maupun orang belum sukses biarlah berjalan secara alamiah. Hal ini tentu saja ada campur tangan Tuhan didalamnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. (2004). Psikologi Belajar. Jakarta : PT Asdi Mahasatya
Depdiknas .(2003). Undang-Undang RI No.20 tahun 2003.tentang Sistem Pendidikan Nasional
Depdiknas .(2009). Permendikbud No. 70 Th. 2009 tentang Pendidikan Inklusif 
Djamal.Nani.N.(2006). Program Keterampilan Belajar Bagi Siswa Berbakat. Tesis: PPS UPI Bandung.
Prayitno dan Erman Amti.(2008). Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta : PT Asdi Mahasatya 
Rifa’i, Achmad dan Catharina. (2012). Psikologi Pendidikan. Semarang: UPT Unnes Press 
Sekretaris Negara RI. (2008). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Sekretaris Negara RI. (2008). Peraturan Pemerintah No 74 Tahun 2008 Tentang Guru
Sudjana, Nana .(1987). Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung:Banu Algesindo.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Syah, Muhibbin. ( 2009) . Psikologi Belajar.Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Yanto, Ari (2005). Kesiapan Kerja Siswa Program Keahlian Listrik (Studi Kasus di SMK N 2 Pengasih dan SMK Ma’arif 1 Wates Kulon progo Yogyakarta Tahun Ajaran 2004/2005). Skripsi : FT UNY.
Zembeni, G., Byers, A., Themu, Kamanga, Rambiki. (2008). Malawi Institute of Education: TALULAR Workshop Report. Malawi